Menjadi Pribadi yang Positif Sebagai Langkah Awal Meraih Kesuksesan

[oleh: Abdul Bari, Alumni Seminar Silent Mindful Listening for Leader]

Minggu lalu menjadi minggu yang cukup menantang untuk saya. Selain dari banyak pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan, jadwal rapat yang padat merayap, saya juga harus melakukan perjalan dinas dalam rangka hadir mendampingi pimpinan kunjungan kerja (kunker) dengan Anggota Dewan. Dalam agenda yang cukup padat itu, saya juga menerima undangan pelatihan dari Divisi MSDM dari tempat saya bekerja, yaitu di PT Jamkrindo. Pelatihan itu dilakukan bersamaan persis dengan perjalanan dinas yang saya lakukan di pulau Dewata, Bali.

Sempat terlintas di benak saya untuk tidak mengikuti pelatihan tersebut, mengingat padatnya jadwal acara dan kegiatan yang harus saya lakukan. Namun pikiran itu saya urungkan, karena melihat tema yang dibahas sangat menarik yaitu mengenai “Silent Mindful Listening For Leader’. Saya juga melihat tidak bijaksana bila saya tidak hadir dalam pelatihan, padahal Divisi MSDM saya sangat support dengan pengembangan diri para karyawannya dengan rajin mengikuti kami ke berbagai pelatihan-pelatihan.

Di tengah-tengah pekerjaan yang saya lakukan, saya menyempatkan diri untuk ikut hadir dalam pelatihan tersebut. Untungnya, pelatihan tersebut dilakukan secara hybrid, sehingga saya juga bisa mengikuti pelatihan tersebut meskipun tidak berada di lokasi. Pandemi ini telah membawa kemajuan besar dalam proses belajar mengajar, yang semula lebih banyak offline, sekarang dapat dilakukan secara online.

Meskipun kehadiran saya dalam pelatihan tersebut sifatnya multitasking, karena di satu sisi saya ada agenda lain yang juga tidak bisa ditinggal, namun ternyata banyak sekali pelajaran berguna dan menginspirasi yang saya dapati dari pelatihan tersebut.

Dalam pelatihan tersebut, saya diingatkan kembali tentang paradox kehidupan. Dimana banyak hal yang kita inginkan dalam hidup, namun dalam realita justru apa yang kita inginkan menjauh dari apa yang diharapkan. Contohnya ketika ingin bahagia justru merasa menderita, ketika ingin rumah tangga harmonis justru yang ada rumah tangga berjarak. Ingin keuangan likuid, justru sedang dalam kondisi sulit. Ingin karir melesat, kenyataannya justru karir mandek. Ingin menjadi orang yang taat beribadah justru menjadi pribadi yang rajin bermaksiat. Ingin menjadi seorang ahli justru terjebak rutinitas, dan sebagainya paradok-paradoks lainnya.

Mungkin anda pernah membaca dalam berbagai literatur mengenai Law of Attraction (LoA) atau hukum tarik menarik. LoA dalah konsep yang menyatakan pemikiran positif akan berdampak positif pula bagi kehidupan seseorang. Di sisi lain, pemikiran negatif pun akan membuahkan hal serupa. Premis utama dalam LoA ialah Apapun yang kita pikirkan dan yakini dalam hati dapat menjadi kenyataan, baik itu pikiran positif maupun pikiran negatif.

Kesuksesan dan kegagalan yang kita alami adalah hasil dari pikiran kita. Saat kita berpikir ‘aku bisa’ maka tombol di otak kita akan terbuka dan akan segera mencari signal untuk meraih kesuksesan. Sebaliknya jika kita berpikir kita ‘aku tidak bisa’ maka tombol di otak kita akan tertutup sehingga signal peluang untuk menuju kesuksesan pun mampet.

Paradoks yang terjadi dalam hidup mungkin saja salah satunya disebabkan karena kesalahan kita dalam berpikir. Kita tidak memusatkan energi kita pada tujuan kita dan tidak mengirimkan sinyal positif dalam meraih kesuksesan. Alih-alih memusatkan energi menjadi “Be” kita lebih banyak terjerembab pada pakem-pakem kepemilikan yang membuat hidup kita mempunyai pola hidup “Have” terlebih dahulu, disusul kemudian “Do” baru lah menjadi “Be”. Contoh konkritnya ialah pola berpikir harus punya uang (have) baru bisa berbagi (do) dan menjadi dermawan (be). Pola ini bila diteruskan akan membuat kita menggantungkan kebahagiaan pada kepemilikan dan kebendaaan.

Padahal idealnya pola yang baik ialah “Be” terlebih dahulu, baru kemudian do, lalu berujung pada Have. Contohnya dermawan itu membahagiakan (be) maka berbagi lah dengan apa yang kau punya (do) Maka kau akan mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka (have). Hal ini terlihat sederhana dalam membalikkan tahapan yg harus kita lakukan, namun dampaknya nya akan jauh lebih terlihat dan membuahkan hasil yg lebih baik.

Pembahasan LoA ini kemudian membawa saya kembali kepada konten materi yang senior yang saya anggap sebagai mentor saya pribadi, di dalam Podcast PT Jamkrindo. Dalam salah satu seri podcastnya ia menjelaskan secara gamblang dan terstruktur mengenai pentingnya berpikir positif, serta unsur-unsur penting apa sajakah yang terdapat pada positif thinking. Sama seperti pelatihan yang saya dapat, mentor saya tersebut juga mempercayai kekuatan dari positif thinking. Positif thinking menurut dia merupakan pintu masuk untuk mengelola pikiran atau managing thought.

Merefleksikan LoA dalam kaitannya dengan pengelolaan pikiran, mengingatkan kembali saya atas tulisan dari seorang novelis dan dramawan Inggris Charles Reade yang berbunyi “Menabur pikiran, anda menuai tindakan; menabur tindakan, anda menuai kebiasaan; menabur kebiasaan, anda menuai karakter; menabur karakter, anda menuai takdir/nasib”

Apa yang diungkapkan Charles Reade ratusan tahun lalu, hampir senada dengan yang dikatakan mentor saya. Hidup memang tidak pernah terlepas dari pemikiran. Pertanyaan krusial ialah apakah kita sudah benar-benar bisa mengelola pikiran dengan baik? Apakah pikiran-pikiran yang ada sudah tepat untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan hidup? dan paling penting dari itu apakah kita sudah memikirkan dan memformulasikan tujuan hidup kita secara dalam?

Dalam menjalani hidup ini saya percaya bahwa sekedar menjadi pribadi yang positif saja tidak cukup. Kita juga harus menyelaraskan energi positif tersebut ke dalam Noble purpose hidup kita, karena saya percaya setiap orang harus memiliki purpose dalam hidupnya. Purpose ini yang menjadi nyawa kita dari waktu ke waktu dan mendorong kita senantiasa antusias menjalani hidup.

Saking pentingnya tujuan hidup ini, penulis AS, Mark Twain pernah mengatakan dua hal yang paling penting dalam hidupmu adalah hari kelahiranmu dan hari ketika kamu mengetahui alasan kelahiranmu (Noble Purpose).

Banyak riset membuktikan bahwa noble purpose ini erat sekali hubungannya dengan kesuksesan tidak hanya kesuksesan indivisi namun juga korporasi. Survei yang dilakukan oleh PwC mengatakan 79% pemimpin bisnis mempercayai noble purpose adalah inti dari Kesuksesan bisnis. Simon Mainwaring juga mengungkapkan 91% Konsumen siap berganti merek bila ada merek lain yang memiliki noble purpose yang lebih kuat.

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana mengelola pikiran agar dapat memberikan power mencapai tujuan-tujuan hidup?. Setidaknya mentor saya mengatakan ada 17 aspek yang bisa dielaborasi. Aspek-aspek ini ia referensikan dari buku karya Norman Vincent Peale yang berjudul The Power of Positive Thinking.

Meskipun sangat banyak, namun setidaknya ada hal-hal yang fundamental antara lain ialah percaya pada kemampuan diri sendiri, menghilangkan kebiasaan mengeluh, merengek, serta serba khawatir. Memiliki kepercayaan atas diri sendiri merupakan hal penting dan mendasar. Bagaimana bisa mengharapkan orang lain mempercayai diri kita bila kita pun tidak percaya pada sendiri?.

Kepercayaan diri merupakan modal awal untuk bisa menaklukan segala tantangan. Banyak sekali orang menginginkan hal-hal baik dalam hidupnya tapi tidak memiliki kepercayaan atas diri sendiri. Hal ini lah yang menjadi penyebab kegagalan, karena positif thinking hanya direfleksikan sebagai sebuah keinginan baik, kepercayaan sesuatu pada akhirnya akan berjalan dengan baik, bukan sebagai sebuah “power”. Padahal positif thinking itu identik sekali dengan kekuatan atau power.

Begitu juga dengan kebiasaan mengeluh,merengek dan juga serba khawatir. Sebenarnya dalam hidup ini kita tidak perlu cemas atas kekurangan yang kita miliki. Karena selain kekurangan, pastinya setiap manusia juga diberkahi oleh kelebihan dan potensi. Perasaan inferior tidak akan membantu kita menaklukan tantangan. Berpikiran luaslah! Bersikaplah seperti orang besar! Jadilah orang besar!

Meskipun positif thinking terdengar sangat optimis, namun patut disadari juga bahwa untuk menjadi sukses tidak hanya dibutuhkan sebuah pikiran, namun juga tindakan. Untuk sukses diperlukan ketekunan, keterampilan, kerja keras dan mungkin sedikit keberuntungan.

Walaupun positif thinking merupakan hal yang baik, namun harus disadari bahwa untuk mencapai hal-hal hebat diperlukan lebih dari sekadar pemikiran positif. Dalam banyak literatur juga disebutkan bahaya dari positif thinking yang berlebihan. Penelitian gabungan ilmuwan Cairnmiller Institute dan Deakin University – Australia menunjukkan jika pemikiran positif yang berlebihan dapat menciptakan ilusi yang akhirnya berisiko bagi kesehatan fisik dan mental.

Maka itu dalam berpikir positif juga terdapat koridor-koridor yang harus menjadi pedoman. Berpikir positif bukan berarti menghilangkan sama sekali pikiran negatif. Berpikir negatif akan membuat kita lebih siap dalam menghadapi tantangan yang akan kita hadapi. Berpikir negatif, terkadang justru memaksa kita untuk membuat strategi perencanaan yang lebih efektif, karena kita telah telah memikirkan cara pemecahan masalah sebelum masalah tersebut datang.

Jika sebagian besar orang berharap bahwa segala sesuatunya akan berjalan sesuai dengan rencana, maka orang berpikiran negatif justru membuat daftar semua hal yang dapat membuatnya gagal. Orang berpikiran negatif biasanya tidak hanya menyajikan satu rencana saja namun berbagai rencana untuk meminimalkan dampak dari masalah yang akan dihadapinya.

Intinya kita tidak perlu takut berpikir negatif, namun kita harus dapat menggunakan pikiran negatif tersebut sebagai arah untuk perbaikan yang positif, dan tahu kapan waktu yang tepat menggunakan pikiran positif dan negatif untuk meraih tujuan.

Seorang Pemikir positif akan selalu bangkit kembali meskipun mengalami kemunduran serius dalam hidup. Semua kemampuan, keterampilan, pengetahuan akan sedikit berguna jika tidak ada sikap positif. singkirkan semua keyakinan yang membatasi diri dan pembatasan yang diberlakukan sendiri dan orang lain terhadap anda. Sebaliknya Ketika anda memilih untuk menyerah pada pandangan negatif, pesimisme, dan pandangan dunia yang suram, dampaknya ialah anda kehilangan kendali terhadap hidup anda dan berpotensi berkubang dalam ketidakbahagiaan karena kehilangan peluang penting untuk pertumbuhan dan pengembangan.

Beberapa minggu ini saya juga aktif mengikuti kelas dari Harvard Business Executive mengenai Strategy Execution. Dari kelas tersebut saya belajar bahwa leader atau manajemen sering gagal untuk melaksanakan strategi yang menjanjikan dari keengganan untuk membuat pilihan yang sulit (tough choice). Pilihan yang sulit ini merupakan refleksi mendalam kemampuan mengelola ketegangan antara Inovasi dan kontrol. Inovasi banyak bicara pada tataran optimisme dan positivisme, sementara kontrol lebih banyak pada tataran masalah dan kendala yang muncul atau mungkin muncul (negative).

Saya sangat antusias sekali untuk mempelajari banyak hal di tengah-tengah kesibukan yang saya hadapi. Waktu dan pengalaman saya dalam belajar menjadi oase tersendiri di tengah rutinitas yang ada serta dapat menjadi keasyikan sendiri dan menjadi pengobat pikiran.

Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai konten podcast yang saya sebutkan di atas mengenai pentingnya berpikir positif, serta unsur-unsur penting apa saja kah yang terdapat pada positif thinking anda bisa menontonnya melalui youtube channel PT Jamkrindo. Saya pun sampai saat ini masih menunggu episode selanjutnya dari tema “Positive Thinking and Shifting Paradigm To Be Richer, Smarter And Become Valuable Person” tersebut. Episode baru mengenai positif thinking tersebut telah mengingatkan saya bahwa kunci utama dari semua kesuksesan ialah berpikir positif dan percaya bahwa kita bisa. Hal tersebut merupakan modal utama yang tidak bisa ditawar-tawar.

Ingatlah bahwa Kebiasaan berpikir positif harus dipraktekkan. Positive thinking bukan bakat, ia juga bukan sesuatu yang bisa datang sendiri dan anda peroleh hanya dengan duduk-duduk menunggu tanpa adanya usaha. Mentor saya mengatakan membiasakan untuk berpikir positif harus dimulai dalam keseharian dari mulai tindakan-tindakan kecil hingga tindakan-tindakan besar. Latih pikiran dan perilaku positif setiap hari sampai menjadi kebiasaan karena berpikir positif adalah ibu dari segala sesuatu di dunia. Berpikir positif adalah prasyarat untuk sukses. Berpikir positif adalah Ibarat sentuhan ‘Midas’ yang menarik kekayaan, prestasi, dan kebesaran. Dari pekerjaan terkecil hingga penemuan dan penemuan terbesar – semuanya adalah hasil dari berpikir positif.

Saya yakin jika anda menonton podcast tersebut anda akan semakin mengerti arti penting berpikir positif dan mendapatkan banyak inspirasi mengenai bagaimana positif thinking dapat dilatih. Saya saat ini juga sedang melakukan latihan untuk berpikir positif, dan termotivasi untuk menerapkan cara-cara berpikir positif tersebut.

Sumber: Kumparan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top