Kampoong Hening : Jalan Menuju Kejernihan Hati

cari kesegaran untuk menenangkan pikiran

7 Stigma Negatif yang Sering Muncul di Masyarakat tentang Kesehatan Mental

Apa yang akan Anda pikirkan jika mendengar kata kesehatan mental? Apakah Anda langsung berpikiran bahwa itu adalah hal negatif, ataukah pikiran Anda tertuju pada sesuatu yang lebih luas, seperti keadaan psikologis seseorang yang sebenarnya jauh dari kesan negatif yang selama ini telah tertanam dalam masyarakat?

Nah, dalam artikel kali ini, Anda akan menemukan 7 stigma negatif atau persepsi yang salah tentang kesehatan mental yang sering muncul di tengah masyarakat. Apa saja itu?

1. Bipolar Bukanlah Orang Gila

Pernah mendengar kata bipolar? Apakah Anda termasuk salah satu orang yang menganggap bahwa seseorang dengan keadaan bipolar itu sama dengan orang gila? Jangan, ya!

Sebab, bipolar itu sebuah gangguan mental yang membuat seseorang mudah mengalami mood swing, berubah dari satu emosi ke emosi lainnya dengan cepat.

Orang bipolar sama dengan orang normal, mereka masih memiliki logika tajam dalam berpikir, bisa membedakan mana yang baik dan buruk, serta bisa menjadi orang sukses.

Sementara itu, bahkan di kalangan masyarakat sendiri persepsi tentang orang gila juga tak sepenuhnya benar dan justru terkesan menghakimi.

Bipolar ini ditandai biasanya dengan kondisi seseorang yang awalnya biasa saja atau mungkin justru sedang bahagia, tiba-tiba langsung berubah drastis menjadi sedih atau marah-marah dalam sekejap.

Kondisi ini memang membutuhkan beberapa terapi untuk bisa menekan dampak negatifnya lebih kepada si penderita, agar mereka bisa mengolah emosi dan kondisi diri sendiri lebih stabil saat sendiri atau di tengah orang banyak.

Namun, bukan berarti orang bipolar tidak akan memiliki masa depan cerah di masa depan, ya. Anda tentu mengenal beberapa nama seperti Demi Lovato, Marshanda, bahkan Kurt Cobain, bukan?

Nah, mereka adalah beberapa public figure yang juga menderita bipolar, tetapi bisa tetap sukses, bahkan sangat bersinar di karier mereka masing-masing.

Jadi, mulai sekarang stop menghakimi bahwa orang dengan kondisi bipolar adalah orang gila kemudian mengucilkan mereka, ya! Sebab, keadaan bipolar itu jauh sekali dari kata gila atau persepsi negatif yang selama ini melekat pada mereka.

2. Seorang Introver Bukanlah Orang yang Anti Sosial

Anda seorang introver? Pernah dikatakan sebagai seseorang yang anti sosial atau memiliki kelainan tak bisa bersosialisasi dengan orang lain? Kalau iya, segera katakan pada mereka di luar sana untuk mengubah persepsi itu, karena introver sangat berbeda dengan anti sosial.

Seseorang dengan pribadi introver adalah mereka yang lebih memilih kualitas dari kuantitas saat menjalin hubungan dengan orang lain. Misalnya saja tentang masalah berteman, mereka akan lebih memilih orang sedikit tetapi sangat setia kawan dan dekat sekali, daripada banyak tetapi tidak dekat dan saling mengerti satu sama lain.

Seorang introver juga kurang menyukai sesuatu yang terlalu ramai, atau dikelilingi banyak oran, sehingga mereka terkesan menjadi seorang penyendiri yang menjauhi lingkungan. Padahal, sesungguhnya orang introver lebih memilih melakukan hal yang menurut mereka jauh lebih nyaman, salah satunya dengan tidak terlalu berkerumun apabila kurang bermanfaat.

3. Self Talk Bukanlah Orang Gila atau Kena Gangguan Mental

Jika Anda menemukan seseorang yang sering berbicara pada dirinya sendiri, bukan berarti dia adalah orang gila atau memiliki gangguan mental berat. Kenapa? Bisa jadi self talk atau berbicara pada diri sendiri adalah cara seseorang untuk memberikan afirmasi positif pada dirinya, agar bisa lebih semangat dalam menjalani hidup saat ini dan meraih kesuksesan di masa depan.

Justru orang yang selalu memberikan afirmasi positif pada dirinya sendiri, terlebih sebelum tidur, dapat membantunya melewati kesulitan hidup yang diakibatkan oleh rasa minder pada dirinya sendiri atas prestasi dari orang lain.

Jadi, stop mulai sekarang menyamakan orang yang selalu melakukan self talk dengan orang gila yang dipandang negatif di masyarakat, karena stigma itu sama sekali tidak benar.

4. Orang yang Sedang atau Pernah Mengalami Gangguan Mental Bisa Sukses di Masa Depan

Siapa bilang orang yang pernah mengalami gangguan mental baik ringan maupun parah, jika telah sembuh total di masa depannya tidak dapat meraih kesuksesan?

Di luar sana sudah banyak sekali ahli kejiwaan yang siap membantu menemani penderita melakukan psikoterapi, belum lagi semangat dari setiap individu dan keluarganya, maka tak heran jika penyitas bisa kembali meraih kebahagiaan hidup ketika berhasil mengalahkan sesuatu yang telah mengganggu mentalnya tersebut.

Jadi, jangan pernah meremehkan seseorang yang saat ini tengah mengalami gangguan mental, karena bisa jadi apabila setelah melakukan perjuangan keras dan akhirnya sembuh, semangat hidup mereka jauh lebih besar daripada orang yang belum pernah mengalami gangguan mental.

5. Depresi Tidak Berarti Seseorang Mengalami Lemah Iman atau Kurang Ibadah

Apabila ada seseorang yang mengalami depresi, jangan buru-buru menghakimi mereka karena lemah iman, kurang ibadah, atau parahnya kemasukan makhluk ghaib. Sebab, depresi adalah gangguan mental yang bisa dialami oleh siapa pun!

Depresi terjadi karena kondisi tekanan berat pada seseorang dan kemudian membuatnya menjadi mengalami sebuah gangguan pada mental. Ciri-cirinya bisa dengan kondisi seperti berlebihan dalam makan, tidur, marah, panik, dan sebagainya.

Cara yang bisa dilakukan untuk mendukung mereka agar kembali sehat tentu saja dengan semangat dari orang terdekat, menjalani psikoterapi, dan beberapa memang membutuhkan pengobatan seperti anti depresan.

6. Gangguan Mental Tidak Hanya Dialami Orang Dewasa

Jika Anda beranggapan bahwa gangguan mental hanya bisa dialami oleh orang dewasa, maka itu adalah stigma yang keliru. Mengapa? Karena bahkan pun anak-anak maupun remaja bisa mengalaminya, apabila mereka terjebak pada kondisi berat dan menekan yang memaksa mereka mereka untuk pada akhirnya jatuh dan mengalami gangguan.

Bisa jadi karena perceraian orang tua, cara mendidik orang tua yang salah atau terlalu keras, pemaksaan kehendak pada mereka, pelecehan seksual, pelecehan verbal, perundungan, dan berbagai tindakan lain yang memicu rasa trauma mereka.

Untuk itu, sebagai orang tua atau pendidik, sebaiknya Anda waspada dan terus temani anak-anak atau anak didik Anda, agar terhindar dari masalah yang bisa mengganggu mental mereka.

7. Sibuk dengan Sebuah Urusan Bukan Berarti Autis

Austisme sendiri adalah gangguan pertumbuhan yang mengakibatkan seseorang mengalami keterlambatan dalam proses perkembangan mereka. Lalu, apa bedanya dengan mereka yang sibuk dengan dunianya sendiri? Jelas beda!

Seseorang yang fokus melakukan sesuatu yang dianggap orang sibuk dengan dunianya, bukan berarti adalah orang autis. Bisa jadi mereka memang orang yang sangat menjunjung tinggi prioritas, sehingga saat fokus mengerjakan sesuatu yang dianggap prioritas saat itu, maka dia tak akan menomorduakan dengan hal lain di sekitarnya.

Nah, itulah tadi 7 stigma negatif atau beberapa persepsi yang salah tentang kesehatan mental dalam masyarakat selama ini. Jika Anda sudah mengetahuinya, maka mulai sekarang jadilah orang yang akan ikut mengubah stigma negatif itu untuk diri sendiri maupun orang-orang di sekitar Anda. Ikuti program terapi healing dari Kampoong Hening untuk membantu menyelesaikan permasalahan kesehatan mental!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top